Sabtu, 23 Februari 2013

pendekatan pembelajaran akidah


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Definisi Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan dapat diartikan, “sebagai proses, perbuatan, atau cara untuk mendekati sesuatu”. Menurut Suharno, Sukardi, Chodijah dan Suwalni (1998: 25) bahwa, “pendekatan pembelajaran diartikan  model  pembelajaran”. Sedangkan  pembelajaran menuzut H.J. Gino dkk. (1998:32) bahwa, “pembelajaran  atau  intruction  merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar dengan tujuan mengaktifkan faktor intern dan faktor ekstern dalam kegiatan belajar mengajar”. Sukintaka (2004: 55) bahwa, “pembelajaran mengandung pengertian, bagaimana para guru mengajarkan sesuatu kepada peserta didik, tetapi di samping itu juga terjadi peristiwa bagaimana peserta didik mempelajarinya”.
Berdasarkan  pengertian  pendekatan dan pembelajaran  tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan pembelajaran merupakan cara kerja mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran  dan  membelajarkan siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini sesuai  pendapat  Wahjoedi (1999 121)  bahwa, “pendekatan  pembelajaran  adalah cara  mengelola kegiatan belajar dan perilaku siswa agar ia dapat aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar secara optimal”. Menurut Syaifuddin Sagala (2005: 68) bahwa, “Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditcmpuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu”.[1]


B.  Macam-macam Pendekatan Dalam  Proses Belajar Mengajar
Ada beberapa pendekatan yang diharapkan dapat membantu pendidik dalam  menyelesaikan berbagai masalah dalam  kegiatan belajar mengajar, terutama dalam pembelajaran akidah akhlak diantaranya :

1.    Pendektan individual
Setiap peserta didik memiliki keunikan tersendiri, itulah yang membuat cara berprilaku dan cara belajarnya berbeda. Sehingga sebagai guru tidak boleh menyamakan antara satu dangan  yang lain. Sehingga anak yang mungkin aktif dikelas tidak bisa dianggap lebih pandai dari anak yang pendiam, terlebih dalam pembelajaran aqidah akhlak.
Pembelajaran akidah akhlak bukan berupa pengetahuan saja, namun yang terpenting adalah pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga guru harus teliti dalam memperhatikan perkembangan pemahaman anak didiknya. jadi pendekatan individual adalah pendekatan yang dilakukan guru dengan memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual masing-masing.

2.    Pendektan Kelompok
Pendekatan kelompok memang suatu saat diperlukan  dan digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo socius yaitu makhluk yang cenderung untuk hidup bersama.
Dengan penekanan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembang kan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada pada diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Dan mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak disadari.
Jadi pendekatan kelompok adalah pendekatan yang dilakukan guru dengan tujuan membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik serta membina sikap kesetiakawanan sosial. Misalnya anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dengan kelompok sehingga akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang kekurangan.

3.    Pendektan Edukatif
pendekatan edukatif adalah suatu pendekatan yang dilakukan guru terhadap peserta didik yang bernilai pendidikan dengan tujuan untuk mendidik peserta didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial dan norma agama.
Pendekatan ini sangat penting dalam pembelajaran aqidah akhlak, karena pendekatan ini adalah merupakan pembiasaan terhadap guru dan peserta didik, telebih untuk mata pelajaran akidah akhlak yang berisi nilai-nilai moral dan kepercayaan. Guru bisa memulai pendekatan edukatif dengan pembiasaan-pembiasaan, misalnya ketika bertemu guru mengucapkan salam dan mengajak bersalaman, begitupun ketika hendak berpisah.[2]
4.    Pendekatan fungsional
Ilmu pengetahuan merupakan ilmu yang dapat membentuk kepribadian anak. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah. Anak mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu untuk kepentingan hidupnya. Dengan begitu, maka nilai ilmu sudah fungsional di dalam  diri anak.
Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Diperlukan metode-metode yang perlu dipertimbangkan untuk memperlancar ke arah tersebut , antara lain dengan metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab dan demonstrasi.
Jadi pendekatan fungsional adalah pendekatan yang dilakukan guru terhadap murid dengan mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu untuk kepentingan hidup anak didik.
5.     Pendekatan Pengalaman.
Experience is the best teacher, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapapun. Belajar dari pengalaman adalah lebih baik dari pada sekedar bicara dan tidak pernah berbuat sama sekali. Belajar adalah kenyataan yang ditunjukkan dengan kegiatan fisik.[3]
Meskipun pengalaman diperlukan dan dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman dapat bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik jika guru tidak membawa anak ke arah tujuan pendidikan. Ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada satu tujuan yang berarti bagi anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak.
Betapa tingginya nilai pengalaman, maka disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi  perkembangan jiwa anak, sehingga dijadikanlah pengalaman itu sebagai suatu pendekatan.

C.      Pendekatan Yang Sesuai Dalam Materi Pembelajaran Akidah Akhlak
no
Jenis pendekatan
Materi pelajaran
1
Pendekatan individual
Akhlak terpuji (siddiq)
2
Pendekatan kelompok
Akhlak kepada teman (adad bergaul dengan teman sebaya)
3
Pendekatan fungsional
Hormat dan patuh
4
Pendekatan edukatif
Kalimat-kalimat tayyibah (arti salam)
5
Pendekatan pengalaman
Kesalahan dan dosa


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dalam  mengajar, pendidik harus pandai menggunakan pendekatan secara aktif dan bijaksana. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap pendidik tidak selalu memiliki suatu pandangan yang sama dalam hal mendidik anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang pendidik ambil dalam  pengajaran
Pendidik yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya, akan berbeda dengan pendidik yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting untuk meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Untuk itu pendidik perlu menyadari dan memaklumi bahwasanya anak didik itu merupakan individu dengan segala  perbedaannya sehingga diperlukan beberapa pendekatan dalam  proses belajar mengajar. Terutama dalam pembelajaran akidah akhlak.


DAFTAR PUSTAKA

-      Jamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
-      syah Darwyn, dkk, Perencanaan System Pengajaran Pendidikan Agama Islam gaung persada pres, Jakarta: 2007
-      Sastrawijaya Tresna, ”Pengembangan Program Pengajaran“. PT.Rinaka cipta, Jakarta : 1991


[1] Drs. Darwyn syah, M.Pd dkk, Perencanaan System Pengajaran Pendidikan Agama Islam (gaung persada pres, Jakarta: 2007)hal.57
[2] Tresna sastrawijaya,”Pengembangan Program Pengajaran“. (PT.Rinaka cipta, Jakarta : 1991), hal 14
[3] Jamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar